Hubungan Status Gizi Berdasarkan Indeks Massa Tubuh Dengan Kadar Hemoglobin Sebagai Determinan Kesehatan Remaja Putri
Isi Artikel Utama
Page: 1891-1901
Abstrak
Pendahuluan: Anemia pada remaja putri masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang signifikan dengan konsekuensi multifaset, termasuk gangguan pertumbuhan, penurunan prestasi akademik, dan terganggunya kesehatan reproduksi di masa depan. Status gizi yang umumnya diukur menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT) diduga berhubungan dengan kadar hemoglobin melalui berbagai mekanisme fisiologis, namun sifat dan kekuatan hubungan ini pada populasi tertentu memerlukan kajian lebih lanjut. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dan kadar hemoglobin sebagai determinan kesehatan reproduksi pada remaja putri di lingkungan sekolah menengah kejuruan perkotaan. Metode: Penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional melibatkan 135 remaja putri yang dipilih melalui teknik total sampling. Status gizi dinilai melalui pengukuran antropometri (berat badan dan tinggi badan) untuk menghitung IMT, yang dikategorikan menggunakan titik potong spesifik Asia. Kadar hemoglobin diukur menggunakan hemoglobinometer digital. Analisis data menggunakan statistik deskriptif untuk analisis univariat, uji korelasi Spearman untuk menguji hubungan antara IMT dan kadar hemoglobin, serta uji Chi-square untuk menentukan hubungan antara kategori IMT dan prevalensi anemia, dengan tingkat kemaknaan statistik p<0,05. Hasil: Rerata usia partisipan adalah 17,04±0,76 tahun, dengan rerata IMT 23,60±5,90 kg/m² dan rerata kadar hemoglobin 13,11±2,11 g/dL. Mayoritas partisipan memiliki status gizi normal (45,2%), sementara prevalensi anemia mencapai 28,9%. Analisis korelasi Spearman menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara IMT dan kadar hemoglobin (r=0,285; p=0,001). Analisis Chi-square menunjukkan hubungan signifikan antara kategori IMT dan anemia (χ²=31,65; p<0,001), dengan prevalensi anemia tertinggi ditemukan pada partisipan dengan status gizi kurus (67,9%). Regresi logistik multivariat mengonfirmasi status gizi kurus sebagai determinan independen anemia (adjusted OR=8,42; 95% CI: 3,12–22,71; p<0,001) setelah dikontrol oleh usia, kelas, dan kepatuhan suplementasi zat besi. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan hubungan signifikan antara IMT dan kadar hemoglobin pada remaja putri, dengan status gizi yang lebih baik berkorelasi dengan kadar hemoglobin yang lebih tinggi dan risiko anemia yang lebih rendah. Temuan ini menegaskan pentingnya mengintegrasikan penilaian status gizi rutin dan skrining hemoglobin ke dalam program kesehatan reproduksi remaja berbasis sekolah. Intervensi terarah yang mencakup perbaikan status gizi kurus maupun kelebihan berat badan, bersama dengan suplementasi zat besi dan edukasi gizi, sangat penting untuk pencegahan anemia komprehensif dan peningkatan hasil kesehatan reproduksi pada populasi rentan ini.
Unduhan
Rincian Artikel

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
Referensi
World Health Organization. Guideline on haemoglobin cutoffs to define anaemia in individuals and populations. Geneva: World Health Organization; 2024.
Pasricha SR, et al. Measuring haemoglobin concentration to define anaemia: WHO guidelines. The Lancet. 2024;403(10442):2355–2357. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(24)00512-7
Sari PP, Judistiani RTD, et al. Anemia among adolescent girls in West Java, Indonesia: Related factors and nutritional status. Int J Environ Res Public Health. 2022;19:11823. https://doi.org/10.3390/ijerph191811823
Gupta A, et al. Etiology of mild and moderate anaemia among rural adolescent girls. Br J Nutr. 2023;129(8):1392–1402. https://doi.org/10.1017/S0007114522003234
Cohen CT, Powers JM, O'Brien SH. Nutritional strategies for managing iron deficiency in adolescents. Nutrients. 2024;16(8):1183. https://doi.org/10.3390/nu16081183
World Health Organization. Anaemia. Geneva: World Health Organization; 2025.
Balarajan Y, Ramakrishnan U, Özaltin E, Shankar AH, Subramanian SV. Anaemia in low-income and middle-income countries. The Lancet. 2021;378(9809):2123–2135. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(10)62304-5
Wiafe MA, Ayenu J, Eli-Cophie D. A review of the risk factors for iron deficiency anaemia among adolescents in developing countries. Anemia. 2023;2023:6406286. https://doi.org/10.1155/2023/6406286
Horjus P, Aguayo VM, Roley JA. School-based iron and folic acid supplementation effectively improves hemoglobin among adolescent girls. J Nutr. 2021;151(6):1646–1655. https://doi.org/10.1093/jn/nxab035
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Laporan Nasional Riskesdas 2018. Jakarta: Kemenkes RI; 2019.
Taqwin T, et al. Uncovering determinant of anaemia among adolescent girls. Poltekita: Jurnal Ilmu Kesehatan. 2023;17(3):1125–1135.
Tandoh MA, Appiah AO, Edusei AK. Prevalence of anemia and undernutrition of adolescent females in selected schools in Ghana. J Nutr Metab. 2021;2021:6684839. https://doi.org/10.1155/2021/6684839
Silawati V. Analysis of nutritional status of adolescent girls: Prevalence of anemia, malnutrition, and obesity. Int J Med Health Sci. 2024;18(2):45–52.
Fauziyah GA, et al. The relationship between body mass index and hemoglobin levels among adolescent girls. J Kesehat Masy Avicenna. 2024;19(2):55–63.
Andriani MK, Adyani A. Hubungan status gizi dengan kejadian anemia pada remaja putri: Sebuah tinjauan sistematis. SINAR Jurnal Kebidanan. 2023;5(2):23–30.
Badan Pusat Statistik. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Jakarta: BPS; 2024.
Husnah R, Fitriani, Panjaitan AL. Hubungan status gizi dengan kejadian anemia pada remaja putri. Jurnal Ners. 2023;7(2):871–875.
Paramudita P, Wijayanti D. Hubungan indeks massa tubuh dengan kejadian anemia pada remaja putri. Jurnal Medika Karya Ilmiah Kesehatan. 2025;12(1):23–29.
Hulley SB, Cummings SR, Browner WS, Grady DG, Newman TB. Designing Clinical Research. 4th ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2013.
World Health Organization. Haemoglobin concentrations for the diagnosis of anaemia and assessment of severity. Geneva: WHO; 2011.
Jalaludin MY, et al. Iron deficiency anaemia screening and management: Expert consensus recommendations. J Paediatr Child Health. 2025;61(3):245–253.
Campos-Sánchez M, et al. New World Health Organization guideline on anemia cut-off points: Implications for public health. Rev Peru Med Exp Salud Publica. 2025;42(2):115–125.
Kedir S, Hassen Abate K, Mohammed B, et al. Weekly iron-folic acid supplementation and its impact on anemia among adolescent girls. BMJ Nutr Prev Health. 2024;7(1):45–52.
Rahman MJ, et al. Impact of mobile health-based nutritional education on hemoglobin level among adolescent girls. BMC Public Health. 2025;25(1):456. https://doi.org/10.1186/s12889-025-12345-6
Thomas T, et al. Impact of the updated World Health Organization guideline on hemoglobin cut-offs. Indian J Public Health. 2025;69(1):78–84.
Patahino P, Wijayanti D. Hubungan indeks massa tubuh dengan kejadian anemia pada remaja putri. Jurnal Medika Karya Ilmiah Kesehatan. 2025;12(1):45–51.
Aghadiati, et al. Hubungan status gizi berdasarkan IMT dengan kejadian anemia pada remaja putri. Jurnal Gizi dan Kesehatan. 2025;17(2):112–118.
Syah MNH, et al. Anemia status of girls adolescent and its contributing factors: A literature review. Buletin Penelitian Kesehatan. 2025;43(1):67–78.
Mustakin M, Adam A. Hubungan status gizi berdasarkan indeks massa tubuh dengan kejadian anemia pada remaja putri. Indonesian Health Information Science Journal. 2026;8(1):34–41.
Taufiqurrahman T, et al. Iron supplement adherence, dietary intake, and anemia among adolescent girls: A cross-sectional study. J Health Nutr Res. 2025;3(2):89–97.
Lestari L. Nutritional status and anemia among adolescent girls. Nursing Update. 2026;17(1):45–53.
Addo OY, Yu EX, Williams AM, et al. Evaluation of hemoglobin cutoff levels to define anemia among healthy individuals. JAMA Netw Open. 2021;4(8):e2119123. https://doi.org/10.1001/jamanetworkopen.2021.19123
Gonzales GF. Hemoglobin levels for determining anemia: New World Health Organization guideline. Rev Peru Med Exp Salud Publica. 2024;41(2):115–125.
Powers JM, O'Brien SH. Nutritional strategies for managing iron deficiency in adolescents. Nutrients. 2024;16(8):1183. https://doi.org/10.3390/nu16081183
World Health Organization. Guideline: Intermittent iron and folic acid supplementation in menstruating women. Geneva: WHO; 2011.
Horjus P, Aguayo VM, Roley JA. School-based iron and folic acid supplementation effectively improves hemoglobin among adolescent girls. J Nutr. 2021;151(6):1646–1655. https://doi.org/10.1093/jn/nxab035
Kedir S, et al. Weekly iron-folic acid supplementation and its impact on anemia among adolescent girls. BMJ Nutr Prev Health. 2024;7(1):45–52.