Faktor-Faktor yang Berhubungan (Bivariat) dengan Stigma pada Pasien TB Paru di Puskesmas Kota Gorontalo
Isi Artikel Utama
Page: 1576-1584
Abstrak
Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan global yang tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga memengaruhi aspek psikologis dan sosial, terutama stigma yang dialami pasien. Stigma dapat menyebabkan keterlambatan diagnosis, kepatuhan pengobatan yang buruk, dan berkurangnya dukungan sosial. Namun, data mengenai tingkat dan faktor-faktor yang berhubungan dengan stigma pada pasien TB paru di Kota Gorontalo masih terbatas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat stigma serta faktor-faktor yang berhubungan dengan stigma pada pasien TB paru di tiga puskesmas di Kota Gorontalo. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan potong lintang yang dilaksanakan pada Januari hingga April 2026. Sebanyak 107 pasien TB paru dari Puskesmas Kota Utara, Dungingi, dan Kota Tengah dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner stigma Van Rie yang telah tervalidasi dan dianalisis secara deskriptif serta bivariat (uji chi-square). Hasil: Sebagian besar pasien (53,3%) berada pada kategori stigma sedang. Analisis bivariat menunjukkan bahwa hanya faktor usia yang memiliki hubungan signifikan dengan tingkat stigma (p = 0,000), sedangkan jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, lama pengobatan, dan jumlah anggota keluarga tidak menunjukkan hubungan bermakna (p > 0,05). Berdasarkan analisis nilai mean pada setiap dimensi stigma, stigma disclosure/takut merupakan yang paling dominan dialami pasien (mean = 1,77), yang mengindikasikan ketakutan pasien dalam mengungkapkan status penyakitnya akibat kekhawatiran terhadap penolakan, pengucilan, dan diskriminasi sosial. Kesimpulan: Stigma disclosure/takut teridentifikasi sebagai jenis stigma yang paling dominan dialami pasien TB paru, dan usia merupakan faktor yang berhubungan secara signifikan. Stigma masih menjadi permasalahan pada tata laksana TB paru. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengkaji faktor lain seperti pengetahuan tentang TB, dukungan keluarga, dan kesadaran masyarakat, serta konteks budaya lokal melalui pendekatan kualitatif.
Unduhan
Rincian Artikel

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
Referensi
World Health Organization. (2021). WHO consolidated guidelines on tuberculosis module 3: Rapid diagnostics for tuberculosis detection. Geneva: World Health Organization.
World Health Organization. (2022). Global tuberculosis report 2022. Geneva: World Health Organization.
Sunarmi, & Kurniawaty. (2022). Hubungan karakteristik pasien TB paru dengan kejadian tuberkulosis. Jurnal Aisyiyah Medika, 7(2), 182–187. Available At: https://doi.org/10.36729/jam.v7i2.865
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2018). Laporan program penanggulangan tuberkulosis tahun 2018. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Husnaniyah, D., Lukman, M., & Susanti, R. D. (2017). Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap harga diri (self esteem) penderita tuberkulosis paru di wilayah eks Kawedanan Indramayu. The Indonesian Journal of Health Science, 9(1). Available At: https://doi.org/10.32528/the.v9i1.1256
Gauba, A. (2024). Tuberculosis related stigma and discrimination in India. International Journal of Advanced Research, 12(3), 666–669. Available At: https://doi.org/10.21474/IJAR01/18436
Fuady, A., Arifin, B., Yunita, F., Rauf, S., Fitriangga, A., Sugiharto, A., Yani, F. F., Nasution, H. S., Putra, I. W. G. A. E., Mansyur, M., & Wingfield, T. (2023). Stigma towards people with tuberculosis: A cross-cultural adaptation and validation of a scale in Indonesia. BMC Psychology, 11(1), 1–11.
Andayani, S. (2020). Prediksi kejadian penyakit tuberkulosis paru berdasarkan jenis kelamin. Jurnal Keperawatan Muhammadiyah Bengkulu, 8(2), 135–140. https://doi.org/ 10.36085/jkmu.v8i2.1063
Pangaribuan, L., Perwitasari, D., Tejayanti, T., & Lolong, D. B. (2020). Faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian tuberkulosis pada umur 15 tahun ke atas di Indonesia (Analisis data survei prevalensi tuberkulosis di Indonesia 2013–2014). Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, 22, 10–17.
Konde, C. P., Asrifuddin, A., & Lang, F. L. F. G. (2020). Hubungan antara umur, status gizi dan kepadatan hunian dengan tuberkulosis paru di Puskesmas Tuminting Kota Manado. Jurnal Kesmas, 9(1), 106–113.
Lestari, A. P. Y., Kusumaningtiyas, D. P. H., & Priastana, I. K. A. (2020). Hubungan dukungan sosial keluarga dengan motivasi penderita dalam mencegah penularan TB paru di Kecamatan Negara. Pustaka Kesehatan, 8(3), 195–202. Available At: https://doi.org/10.19184/pk.v8i3.12281
Amalia, Y. (2024). Health Education To Reduce Negative Stigma And Increase Willingness To Screen For Tuberculosis, 6(1), Pp. 8–11. Available At: Https://Doi.Org/10.35568/Healthcare.V6i1.4331.
Gelaw, Y., Getaneh, Z., & Melku, M. (2021). Anemia as a risk factor for tuberculosis: A systematic review and meta-analysis. Environmental Health and Preventive Medicine, 26(1), 1–15. Available At: https://doi.org/10.1186/s12199-020-00931-z
World Health Organization. (2023). Global tuberculosis report 2023. Geneva: World Health Organization.
Nasihin, T. I., & Sarwili, I. (2022). Peran keluarga dengan risiko harga diri rendah pada pasien tuberkulosis. Journal of Nursing Education and Practice, 1(3), 81–87. Available At: https://doi.org/10.53801/jnep.v1i3.53
Abbas Ali, M., Gupta, V., Divakar Addanki, R. N., Mannava, A. S., & Parashar, K. D. (2024). A cross-sectional study to assess stigma associated with tuberculosis in patients, family members, and health care staff in central India. Indian Journal of Tuberculosis, 71, S237–S244. Available At: https://doi.org/10.1016/j.ijtb.2024.04.001
Rizqiya, R. N. (2021). Hubungan stigma masyarakat dengan kepatuhan minum obat pasien TB paru di Puskesmas Puhjarak Kecamatan Plemahan Kabupaten Kediri. Jurnal Ilmu Kesehatan Keperawatan, 17(1), 66–76. Available At: https://doi.org/10.26753/jikk.v17i1.511
Koontalay, A., Suksatan, W., & Prabsangob, K. (2021). I am afraid that others will feel scared and disgusted with me, so I will keep it a secret until I die: A qualitative study among patients with tuberculosis receiving DOTS regimen in Thailand. Belitung Nursing Journal, 7(6), 516–521. Available At: https://doi.org/10.33546/bnj.1678
Roslaini, & Suriani. (2023). Faktor stigma pada pasien TB paru di Kabupaten Aceh Utara. Akmal: Jurnal Kesehatan, 2(1), 8–15. Available At: https://doi.org/10.58435/jka.v2i1.74
Kenedyanti, E., & Sulistyorini, L. (2017). Analisis Mycobacterium tuberculosis dan kondisi fisik rumah dengan kejadian tuberkulosis paru. Jurnal Berkala Epidemiologi, 5(2), 152–162. Available At: https://doi.org/10.20473/jbe.V5I22017.152-162
Risna, A.R., Sainal, A.A. And Suprapto (2023) ‘Pemberdayaan Masyarakat Dalam Upaya Peningkatan Pengetahuan Tentang Tuberkulosis’, 2, Pp. 117–123. Available At: https://doi.org/10.36590/jibi.v2i2.1175
Wijaya, B. A., Prasetyo, J., Retnani, S., & Santoso, P. (2021). Hubungan tingkat kecemasan dan depresi pada pengobatan tuberculosis (TBC). Edu Nursing Journal, 5(1). Available At: https://doi.org/10.26594/edunursing.v5i1.2456
Jannah, S. R., Husain, F., Iswari, R., & Arsi, A. A. (2021). Pemanfaatan mobile health (mH) dan dampaknya pada perilaku kesehatan mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES). Jurnal Sosiologi Nusantara, 7(1), 181–192. Available At: https://doi.org/10.33369/jsn.7.1.181-192