PENETAPAN KADAR SENYAWA S-ALLYL CYSTEINE (SAC) PADA EKSTRAK SOLO BLACK GARLIC SECARA KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI

Bagikan artikel ini Bagikan via WhatsApp

Statistik artikel

Data OJS dan sumber sitasi
Tayangan abstrak0OJS
Unduhan artikel0OJS
Sitasi Crossref22026-10-20
Sitasi Google Scholar12026-10-20

Tayangan dan unduhan adalah aktivitas yang tercatat di OJS; pemrosesan statistik dapat tertunda. Tanda — berarti angka dari sumber tersebut belum tersedia. Cari di Google Scholar

Isi Artikel Utama

Romsiah Romsiah
Jeshi Gecka Ayu
Ahmad Fatoni

Abstrak

Telah dilakukan penelitian mengenai penetapan kadar senyawa S-allyl sistein pada ekstrak solo black garlic secara kromatografi cair kinerja tinggi. Fase diam yang digunakan yaitu ODS C-18 dan fase gerak asetonitril : aquabidest (50:50 v/v) pada laju alir 1,0 ml/menit dengan panjang gelombang 195 nm untuk S-allil sistein. Sebelum melakukan penetapan kadar harus dilakukan uji kualitatif penentuan panjang gelombang pada sampel. Larutan baku standar S-allyl sistein dengan konsentrasi 50, 100, 150, dan 200 ppm yang diukur pada panjang gelombang maksimum 195 nm didapatkan nilai persamaan garis regresi y = 4,818x + 46,5 dengan nilai koefisien relasi (r) = 0,998. Diperoleh hasil panjang gelombang sampel 194 nm mendekati panjang gelombang maksimum pada baku standar. Hasil penetapan kadar dalam ekstrak solo black garlic menunjukkan hasil yaitu pada sampel ekstrak solo black garlic mengandung kadar S-allil sistein 52,055 % dengan kategori aktivitas antioksidan tinggi 50-90 %. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa metode KCKT pada sampel solo black garlic masih menunjukkan adanya senyawa S-allil sistein yang tinggi.

Rincian Artikel

Bagian

Original Articles

Cara Mengutip

PENETAPAN KADAR SENYAWA S-ALLYL CYSTEINE (SAC) PADA EKSTRAK SOLO BLACK GARLIC SECARA KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI. (2022). Journal of Pharmaceutical and Sciences, 5(1), 74-80. https://doi.org/10.36490/journal-jps.com.v5i1.101

Referensi

Aini, S. Q. dan Shovitri, M. (2018). Studi awal pemanfaatan bawang putih yang dihitamkan sebagai antibakteri. Jurnal Sains dan Seni ITS, 7(1), 9-12.

Bae, S. E., Cho, S. Y., Won, Y. D., Lee, S. H., dan Park, H. J. (2012). A comparative study of the different analytical methods for analysis of S-allyl cysteine in black garlic by HPLC. Journal Food Science and Technology, 46, 532-535. doi: 10.1016/ j.lwt.2011.11.013.

Bharat, P., Dave, A. R., Chandola, H. M., Goyal, M. R., Shukla, V. J., dan Khant, D. B. (2014). Comparative analytical study of single bulb and multi bulb garlic (Allium sativum Linn.). International ]mJournal of Alternative Medicine, 2(4), 87-91.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1995). Farmakope indonesia (Edisi IV). Jakarta : Departemen Kesehatan.

Hernawan, U. K. dan Setyawan, A.D. (2003). Senyawa organosulfur bawang putih (Allium sativum L.) dan aktivitas biologinya. Jurnal Biofarmasi, 1(2), 65-76.

Putri, P. E. (2019). Perbandingan aktivitas antioksidan ekstrak bawang putih dan bawang putih tunggal bentuk segar dan fermentasi dengan metode DPPH. Skripsi, Palembang : Program Sarjana Farmasi Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Bhakti Pertiwi.

Rohman, A. (2009). Kromatografi untuk analisa obat. Yogyakarta :

Graha Ilmu.

Saefudin., Marusin, S., dan Chairul. (2013). Aktivitas antioksidan pada enam jenis tumbuhan Sterculiaceae. JurnalPenelitian Hasil Hutan, 31(2), 103-109.

Sari, F. D. P. dan Utami, P. I. (2009). Penetapan kadar kloramfenikol dalam tetes mata pada sediaan generic dan merk dengan metode kromatografi cair kinerja tinggi. Journal pharmacy, 6(2), 53-59.

Yoo, M., Lee, S., Lee, S., Seog, H., dan Shin, D. (2010). Validation of high perfomance liquid chromatoghraphy methods for determination of bioactive sulfur compounds in garlic bulbs. Journal Food Science and Biotechnology, 19, 1619-1626. doi: 10.1007/s10068-010-0229-1.