Penetapan Kadar Kurkumin Dalam Ekstrak Rimpang Temulawak (Curcuma Xanthorriza) Dengan Teknik Maserasi Dan Remaserasi
Statistik artikel
Data OJS dan sumber sitasiTayangan dan unduhan adalah aktivitas yang tercatat di OJS; pemrosesan statistik dapat tertunda. Tanda — berarti angka dari sumber tersebut belum tersedia. Cari di Google Scholar
Isi Artikel Utama
Abstrak
bertumpu pada bidang pertanian. Salah satu komoditas bahan alam andalan Indonesia yakni temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb). Produksi temulawak di Indonesia pada tahun 2015 tercatat sebanyak 25.730.163 kg. Temulawak masih sangat berpotensi untuk dikembangkan karena memiliki bahan aktif kurkumin di dalamnya. Kurkumin termasuk senyawa fenolik yang memberikan pigmen berwarna kuning yang diperoleh dari rimpang tanaman family Jahe (Zingiberaceae). Tujuan; Untuk Mengetahui Penetapan Kadar Kurkumin dalam Ekstrak Rimpang Temulawak (Curcuma xanthorriza) dengan Teknik Maserasi dan Remaserasi. Metode; Penelitian ini termasuk dalam eksperimental murni rancangan acak lengkap pola searah. Hasil; Pada penelitian ini yang diduga sebagai senyawa yang berperan sebagai anti-tukak lambung adalah flavonoid dan kurkumin. Flavonoid adalah kelas metabolit sekunder yang terdiri dari sekitar 7.000 struktur yang telah terindentifikasi sampai saat ini. Kesimpulan; . Perlakuan waktu maserasi berpengaruh sangat nyata terhadap rendemen, kadar total fenolik, kadar total kurkumin dan aktivitas antioksidan ekstrak rimpang temulawak.
Rincian Artikel
Bagian

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
Cara Mengutip
Referensi
Anggoro, D., R.S. Rezki, M.Z. Siswarni. 2015. Ekstraksi Multi Tahap Kurkumin Dari Temulawak (Curcuma xanthorriza Roxv.) Menggunakan Pelarut Etanol. Jurnal Teknik Kimia USU. 4(2) : 39-45
Anonimus. 2015. Statistik Tanaman Biofarmaka Indonesia. Badan Pusat Statistik, Jakarta
Arif, R.S. dan Tukiran. 2015. Identifikasi senyawa fenolik hasil isolasi dari fraksi semi polar ekstrak etil asetat kulit batang tumbuhan nyiri baru (Xylocarpus moluccencis). Journal of Chemistry. 4(2) : 105-110
Budiyanto, A. dan Yulianingsih. 2008. Pengaruh suhu dan waktu ekstraksi terhadap karakter pektin dari ampas jeruk siam (Citrus nobilis L.). J. Pascapanen. 5(2) : 37-44
Cartea, M.E., M. Francisco, P. Soegas dan P. Velasco. 2011. Phenolic compounds in brassica vegetables. Molecules. 16 : 251- 280
Cikita, I., I. H. Hasibuan dan R. Hasibuan. 2016. Pemanfaatan Flavonoid Ekstrak Daun Katuk Sauropusandrogynous (L) Merr) Sebagai Antioksidan pada Minyak Kelapa. Jurnal Teknik Kimia USU: 1-7.
Devi, R.R dan C. Arumughan. 2007. Phytochemical characterization of defatted rice bran and optimization of a process for their extraction and enrichment. Bioresource Technol. 98: 3037-3043
Dewi, P.J.N, A. Hartiati, dan S. Mulyani. 2016. Pengaruh umur panen dan tingkat maserasi terhadap kandungan kurkumin dan aktivitas antioksidan ekstrak kunyit (Curcuma domestica Val.). Jurnal Rekayasa dan Manajemen Agroindustri. 4(2) : 101-111
Fauzana, D. L. 2010. Perbandingan Metode Maserasi, Remaserasi, Perkolasi dan Reperkolasi Terhadap Rendemen Ekstrak Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.). Skripsi. Tidak Dipublikasikan. Fakultas Teknologi Pertanian IPB, Bogor
Harjanti, R.S. 2008. Pemungutan kurkumin dari kunyit (curcuma domestica val.) dan pemakaiannya sebagai indikator analisis volumetri. Jurnal Rekayasa Proses.2(2). Hal 49-54
Hayani, E. 2006. Analisis Kandungan Kimia Rimpang Temulawak. Departemen Pertanian, Bogor Hincapie, C.A., Z. Monsalve, D.S. Seigler, J. Alarco dan C.L. Cespedes. 2011.





